Info Sekolah
Kamis, 30 Apr 2026
  • ~ ~ Welcome to Al-Amanah International College (AIC) Pesantren Modern Al-Amanah Junwangi 4, Kras Kediri Jawa Timur Indonesia ~ ~ Excellent International Islamic College for a Glorious Future ~ ~
  • ~ ~ Welcome to Al-Amanah International College (AIC) Pesantren Modern Al-Amanah Junwangi 4, Kras Kediri Jawa Timur Indonesia ~ ~ Excellent International Islamic College for a Glorious Future ~ ~
30 April 2026

Berbusana Indah dan Pantas

Kam, 30 April 2026 Dibaca 2x Berita Viral / Kesiswaan / Pendidikan

Hari Raya Idul Fitri selalu identik dengan kebahagiaan.  Ada alunan takbir yang menggema, doa yang dipanjatkan, dan momen berkumpul yang hangat bersama keluarga. Di hari istimewa itu, wajar jika setiap perempuan ingin tampil berbeda dari biasanya. Mereka mau terlihat lebih cantik, lebih rapi, dan tentunya elegan. Berbusana terbaik adalah bagian dari rasa syukur. Tapi, di sinilah pentingnya satu sikap yang sering terlupa: selektif.

Selektif berbusana bukan berarti anti-fashion, bukan pula membatasi ekspresi diri. Justru sebaliknya, ini tentang kesadaran. Kesadaran bahwa hari Raya bukan sekadar ajang pamer busana, melainkan momen ibadah dan silaturahmi. Maka, pakaian yang kita pilih seharusnya ikut menjaga suasana sakral dengan penuh adab dan akhlak.

Selektif juga berarti bijak mengikuti tren. Tidak semua tren perlu diikuti. Tidak semua yang viral harus dipakai. Perempuan yang dewasa adalah ia yang mampu memilih mana yang pantas, bukan sekadar mana yang sedang ramai.

Sebagai perempuan, kita sering berada di posisi serba “ingin”. Ingin terlihat modis, ingin dipuji, ingin tampil beda. Tidak salah. Namun, selektif berbusana berarti bertanya pada diri sendiri: Apakah pakaian ini menutup aurat? Apakah masih sopan saat dipakai di hadapan keluarga besar? Apakah membuatku nyaman beribadah dan bersilaturahmi di hari yang penuh makna ini?

Pakaian adalah salah satu nikmat Allah Ta’ala. Allah jadikan manusia memiliki pakaian-pakaian yang memberikan banyak maslahah untuk manusia. Allah Ta’ala berfirman:

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan” (QS. Al A’raf: 32)

Dan Islam juga menuntunkan beberapa adab berpakaian muslim untuk kebaikan dan kemaslahatan manusia dalam berpakaian. Diantaranya adalah terdapat adab-adab khusus berbusana bagi wanita:

  1. Menutup aurat wanita

Ulama Hambali dan Syafi’i berpendapat dari ayat di atas bahwa aurat wanita adalah seluruh tubuh. Sedangkan ulama Maliki dan Hanafi berpendapat bahwa aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Berdasarkan hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu anha, beliau berkata,

أَنَّ أَسْمَاءَ بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ دَخَلَتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهَا ثِيَابٌ رِقَاقٌ فَأَعْرَضَ عَنْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلَّا هَذَا وَهَذَا وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ

Asma’ binti Abu Bakar pernah menemui Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam dengan memakai pakaian yang tipis. Maka Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam pun berpaling darinya dan bersabda, “Wahai Asma’, sesungguhnya seorang wanita itu jika sudah haid (sudah baligh), tidak boleh terlihat dari dirinya kecuali ini dan ini”, beliau menunjuk wajahnya dan kedua telapak tangannya. (HR. Abu Daud 4140) Sehingga dari sini kita ketahui bahwa ada bagian-bagian yang tidak boleh ditampakkan:

* Kaki juga termasuk aurat

* Lengan juga termasuk aurat

* Leher juga termasuk aurat

* Rambut juga termasuk aurat

  1. Tidak berfungsi sebagai perhiasan

Busana wanita Muslimah hendaknya tidak menjadi perhiasan, yang memperindah wanita yang memakainya di depan para lelaki, sehingga menimbulkan fitnah bagi mereka. Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ

“Janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka.” (QS. An-Nur:31).

Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts wal Ifta’ ditanya: “Bolehkah wanita menggunakan busana yang bercorak-corak?”. Mereka menjawab:

لا يجوز للمرأة أن تخرج بثوب مزخرف يلفت الأنظار؛ لأن ذلك مما يغري بها الرجال، ويفتنهم عن دينهم، وقد يعرضها لانتهاك حرمتها

“Tidak diperbolehkan wanita menggunakan busana yang bercorak yang bisa membuat mata lelaki tertarik. Karena busana demikian diantara yang bisa membuat lelaki tergoda dan terfitnah. Dan terkadang membuat seorang wanita dilanggar kehormatannya”.

  1. Kainnya tebal tidak tipis, tidak memperlihatkan lekuk tubuhnya

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“Ada dua golongan dari umatku yang belum pernah aku lihat: (1) suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi yang digunakan untuk memukul orang-orang dan (2) para wanita yang berpakaian tapi telanjang, mereka berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring (seperti benjolan). Mereka itu tidak masuk surga dan tidak akan mencium wanginya, walaupun wanginya surga tercium sejauh jarak perjalanan sekian dan sekian” (HR. Muslim dalam bab al libas waz zinah no. 2128).

Para ulama menjelaskan wanita yang berpakaian tapi telanjang adalah wanita yang menggunakan pakaian yang pendek yang tidak menutupi aurat. Sebagian ulama menafsirkan, mereka yang menggunakan pakaian yang tipis yang tidak menghalangi terlihatnya apa yang ada di baliknya yaitu kulit wanita.Pada akhirnya, berbusana saat hari Raya adalah cermin diri khususnya kita sebagai perempuan. Ia menunjukkan bagaimana kita memuliakan momen, menghargai orang lain, dan menjaga nilai yang kita yakini. Ketika niatnya benar, insyaAllah pilihan pakaiannya pun akan mengarah pada kebaikan, karena sejatinya hari Raya bukan tentang siapa yang paling mencuri perhatian, tapi siapa yang paling menjaga makna dan keimanan.

Artikel Lainnya

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Lokasi