Info Sekolah
Sabtu, 06 Jun 2026
  • ~ ~ Welcome to Al-Amanah International College (AIC) Pesantren Modern Al-Amanah Junwangi 4, Kras Kediri Jawa Timur Indonesia ~ ~ Excellent International Islamic College for a Glorious Future ~ ~
  • ~ ~ Welcome to Al-Amanah International College (AIC) Pesantren Modern Al-Amanah Junwangi 4, Kras Kediri Jawa Timur Indonesia ~ ~ Excellent International Islamic College for a Glorious Future ~ ~
5 Juni 2026

Hakikatnya Allah Sangat Dekat

Jum, 5 Juni 2026 Dibaca 12x Blog

Oleh: Gus Ahmad Nuun, Lc

Pada hakikatnya, Allah Swt. sangat dekat dengan manusia. Hal tersebut digambarkan dalam Al-Qur’an bahwa Allah lebih dekat daripada hablil warid atau urat nadi manusia. Kita mengetahui bahwa urat nadi merupakan bagian penting dalam tubuh yang menjadi jalan mengalirnya darah dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Jika urat nadi dipisahkan dari tubuh, maka manusia tidak akan mampu bertahan hidup. Gambaran ini menunjukkan betapa dekatnya Allah dengan hamba-Nya. Kedekatan itu bukan sekadar simbolis, melainkan menjadi bukti bahwa manusia sejatinya tidak pernah lepas dari pengawasan, kasih sayang, dan pertolongan Allah Swt.

Namun, realitas kehidupan seringkali menunjukkan hal yang berbeda. Tidak sedikit manusia yang menjadikan Allah sebagai pilihan terakhir. Ketika semua usaha telah dilakukan dan keadaan terasa buntu, barulah seseorang mengingat Allah dan memohon pertolongan-Nya. Padahal, mengingat Allah tidak harus menunggu datangnya kesulitan atau penderitaan. Seharusnya, kembali kepada Allah dilakukan sejak awal memulai suatu pekerjaan, bahkan sebelum langkah pertama dijalankan.

Allah Swt. sebenarnya telah mengingatkan manusia melalui surah yang paling sering dibaca dalam salat, yaitu Surah Al-Fatihah, khususnya pada ayat:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Ayat tersebut menegaskan bahwa hanya kepada Allah manusia menyembah dan hanya kepada-Nya pula manusia memohon pertolongan. Tidak ada sesuatu pun yang benar-benar dapat diandalkan selain Allah Swt. Harta, jabatan, relasi, maupun kekuasaan tidak mampu memberikan jaminan mutlak bagi kehidupan manusia. Hanya Allah yang mampu memberikan kesehatan, keselamatan, kesuksesan, dan segala kebutuhan manusia.

Sayangnya, dalam praktik kehidupan sehari-hari, manusia sering lupa menghadirkan Allah di dalam hati. Hal itu terjadi karena hati terlalu dipenuhi oleh ketergantungan kepada selain Allah. Akibatnya, manusia merasa bahwa sesuatu selain Allah mampu menolong dan menjamin kehidupannya. Padahal, segala kekuatan dan pertolongan sejatinya berasal dari Allah Swt.

Karena itu, dalam menjalani kehidupan, seseorang seharusnya berpegang pada prinsip lillāh, billāh, wa ilallāh; yakni memulai segala sesuatu karena Allah, menjalani setiap proses dengan pertolongan Allah, dan menyerahkan seluruh hasil akhirnya kepada Allah.

Salah satu dampak negatif ketika manusia tidak menjadikan Allah sebagai tujuan utama adalah munculnya rasa bangga terhadap amal ibadah yang dilakukan. Seseorang bisa merasa bahwa amalnya menjadi alasan utama untuk memperoleh surga. Padahal, kemampuan untuk beribadah, beramal saleh, bahkan berbuat baik sekalipun merupakan anugerah dari Allah Swt. Oleh sebab itu, manusia tidak layak menuntut balasan atas amalnya, sebab semuanya terjadi karena rahmat dan pertolongan Allah.

Maka, yang seharusnya tertanam di dalam hati adalah kesadaran bahwa semua kebaikan yang dimiliki berasal dari Allah Swt. Kemampuan untuk salat, beramal saleh, meraih kesuksesan, dan menjalani kehidupan dengan baik merupakan bentuk kasih sayang dan anugerah-Nya. Oleh karena itu, berharaplah hanya kepada Allah, meminta pertolongan hanya kepada-Nya, dan berserah diri sepenuhnya kepada-Nya.

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Lokasi