{"id":8955,"date":"2026-05-15T21:47:17","date_gmt":"2026-05-15T13:47:17","guid":{"rendered":"https:\/\/aickediri.com\/?p=8955"},"modified":"2026-05-15T21:47:18","modified_gmt":"2026-05-15T13:47:18","slug":"pondok-pesantren-pada-zaman-ini-mendapat-banyak-anugerah-ujian-dari-allah-swt","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/aickediri.com\/index.php\/2026\/05\/15\/pondok-pesantren-pada-zaman-ini-mendapat-banyak-anugerah-ujian-dari-allah-swt\/","title":{"rendered":"Pondok Pesantren pada zaman ini mendapat banyak anugerah ujian dari Allah SWT"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"576\" src=\"https:\/\/aickediri.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG_4259-1024x576.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-8956\" srcset=\"https:\/\/aickediri.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG_4259-1024x576.jpg 1024w, https:\/\/aickediri.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG_4259-300x169.jpg 300w, https:\/\/aickediri.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG_4259-768x432.jpg 768w, https:\/\/aickediri.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG_4259-1536x864.jpg 1536w, https:\/\/aickediri.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG_4259-2048x1152.jpg 2048w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Akhir-akhir ini Pondok Pesantren pada mendapat banyak anugerah ujian dari Allah SWT. Berita dan stigma buruk kian tumbuh pesat di masyarakat. Perkembangan stigma buruk ini seperti sebuah masakan, bumbu perasanya adalah media sosial. Banyak opini yang bermunculan karena hanya membaca caption tanpa tau detail beritanya dan tanpa tau cara menanggapinya dengan bijak. Kata-kata kotor melalui lisan hp lebih mudah terucap dari pada hasil pikiran yang sehat dan objektif.<\/p>\n\n\n\n<p>Tapi apapun yang terjadi, pesantren harus mengambil sikap mawas diri, muhasabah system dan memperbaiki dzahiran dan bathinan. Perlu digaris bawahi bahwa pesantren bukan seperti lembaga pendidikan pada umumnya. Pesantren memiliki titik fokus berbeda dari yang lain, yaitu bagaimana mendidik manusia menjadi manusia seutuhnya (Insan Kamil). Manusia seutuhnya tidak hanya terdiri dari organ tubuh, akan tetapi ia memiliki hati, ruh, nafsu dan emosional yang harus dididik juga.<\/p>\n\n\n\n<p>Manusia yang tidak hanya akalnya saja bergerak, akan tetapi hatinya, ruhnya dan emosianal bergerak. Jika seseorang hanya mengandalkan ilmunya, maka mudah bagi dia menyalahgunakan ilmunya. Jika hanya mengandalkan hatinya maka sejatinya dia terombang ambing dengan perasaan semata. Bagi pesantren santri yang besar bukanlah santri yang akalnya besar saja, akan tetapi santri yang berjiwa besar, santri yang memberikan seluruh yang dimilikinya untuk maslahat umat.<\/p>\n\n\n\n<p>Pesantren tetap bangga dengan alumni yang mengajar di surau-surau pelosok. Karena dia berjiwa besar. Ilmunya, tenaganya ia curahkan untuk orang lain. Lantas bagaimana pendidikan di pesantren dapat memroduksi manusia seperti itu. Pada dasarnya pesantren mengajarkan asas yang sangat fundamental bagi seorang manusia dalam kehidupan. Yaitu mengenalkan siapa penciptanya? Apa tujuan besar hidup di dunia? Kemana tujuan melangkah, kaki, fikiran, orientasi dan usaha selama hadup di dunia yang fana ini?<\/p>\n\n\n\n<p>Maka telah terang benerang bahwa asas pesantren adalah bagaimana mendidik manusia mengenal Allah, tujuan hidup didunia untuk mencari ridha Allah, merawat buminya Allah dan tujuan akhirnya adalah kembali kepada Allah. Jika sebuah pesantren lepas dari asas ini maka dia tumbuh dengan akar berbeda, dan tentunya hasil akhirnya akan berbeda. Manusia yang berorientasi hanya untuk menggapai ridha Allah semata sangat berbeda dengan manusia yang didalam hatinya ingin dipandang dan diperhatikan manusia. Manusia yang berusaha untuk menyiapkan kehidupan akhirat berbeda dengan yang orientasi usahanya untuk menikmati kesenangan dan kelezatan sesaat.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain akal, pendidikan dipesantren berfokus pada pengelolaan hati dan ruh, agar hati seorang santri siap menerima nur hidayah dari Allah SWT. Maka dari itu sering kita menjumpai pesantren yang fasilitasnya sangat sederhana akan tetapi manusia yang tinggal di dalamnya terhiasi dengan karakter yang baik dan ahlak mulia. Kedua hal itu merupakan manifestasi dari apa yang terdapat dalam hati. Hati manusia layaknya cermin, apa yang tersimpan didalamnya akan terpantul dan termafestasikan menjadi perilaku di kehidupan nyata. Sebagaimana disampaikan dalam hikmah Ibnu Attha illah al-Sakandari:<\/p>\n\n\n\n<p>\u0645\u0627 \u0627\u0633\u062a\u062f\u064a\u0639 \u0641\u064a \u063a\u064a\u0628 \u0627\u0644\u0633\u0631\u0627\u064a\u0631 \u0638\u0647\u0631 \u0641\u064a \u0634\u0647\u0627\u062f\u0629 \u0627\u0644\u0638\u0648\u0627\u0647\u0631<\/p>\n\n\n\n<p>Apapun yang tersimpan didalam hati akan tampak pada perilaku dzahir.<\/p>\n\n\n\n<p>Jika yang tersimpan adalah sifat mulia, tanpa rasa dengki, hasad, amarah maka itu juga yang akan tampak dalam kehidupan nyata. Begitupun sebaliknya. Seringkali pendididikan terjebak pada pencapaian materil, pada akhirnya semua program di gunakan untuk mencapai hal itu. Telah kita ketahui bersama bahwa kelalaian pendidikan atas hal bathin adalah sumber dari kehancuran. Karakter dan jiwa yang sehat berasal dari bathin yang sehat. Jika karakter dzahir baik tetapi bathinnya tidak baik maka karakter yang tampak adalah sebuah kepalsuan. Bisa saja secara dzahir dia tersenyum tapi secara bathin penuh dendam, secara dzahir berpakaian seperti orang sholeh bisa saja secara bathin orientasinya hal duniawi maka cara berpakaian tersebut adalah pemalsuan karakter.<\/p>\n\n\n\n<p>Islam mengajarkan jika engkau berkata baik maka hatimu juga berkata baik. Jika pendidikan tidak mengajarkan akan hal itu maka akan berpotensi memunculkan pribadi-pribadi yang tidak dapat dipercaya dan pribadi-pribadi yang tidak bisa diberikan amanah. Entah amanah menjadi guru, ustadz, pejabat, pendidik dan pemimpin bahkan. Manusia yang belum selesai dengan dirinya akan berdampak negatif pada amanat yang di embannya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Akhir-akhir ini Pondok Pesantren pada mendapat banyak anugerah ujian dari Allah SWT. Berita dan stigma buruk kian tumbuh pesat di masyarakat. Perkembangan stigma buruk ini seperti sebuah masakan, bumbu perasanya adalah media sosial. Banyak opini yang bermunculan karena hanya membaca caption tanpa tau detail beritanya dan tanpa tau cara menanggapinya dengan bijak. Kata-kata kotor melalui lisan hp lebih mudah terucap dari pada hasil pikiran yang sehat dan objektif. Tapi apapun yang terjadi, pesantren harus mengambil sikap mawas diri, muhasabah system dan memperbaiki dzahiran dan bathinan. Perlu digaris bawahi bahwa pesantren bukan seperti lembaga pendidikan pada umumnya. Pesantren memiliki titik fokus berbeda dari yang lain, yaitu bagaimana mendidik manusia menjadi manusia seutuhnya (Insan Kamil). Manusia seutuhnya tidak hanya terdiri dari organ tubuh, akan tetapi ia memiliki hati, ruh, nafsu dan emosional yang harus dididik juga. Manusia yang tidak hanya akalnya saja bergerak, akan tetapi hatinya, ruhnya dan emosianal bergerak. Jika seseorang hanya mengandalkan ilmunya, maka mudah bagi dia menyalahgunakan ilmunya. Jika hanya mengandalkan hatinya maka sejatinya dia terombang ambing dengan perasaan semata. Bagi pesantren santri yang besar bukanlah santri yang akalnya besar saja, akan tetapi santri yang berjiwa besar, santri yang memberikan seluruh yang dimilikinya untuk maslahat umat. Pesantren tetap bangga [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":8956,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"tpgb_global_settings":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-8955","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-blog"],"tpgb_featured_images":{"full":["https:\/\/aickediri.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG_4259-scaled.jpg",2560,1440,false],"tp-image-grid":["https:\/\/aickediri.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG_4259-700x700.jpg",700,700,true],"thumbnail":["https:\/\/aickediri.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG_4259-150x150.jpg",150,150,true],"medium":["https:\/\/aickediri.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG_4259-300x169.jpg",300,169,true],"medium_large":["https:\/\/aickediri.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG_4259-768x432.jpg",768,432,true],"large":["https:\/\/aickediri.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG_4259-1024x576.jpg",840,473,true],"default":"https:\/\/aickediri.com\/wp-content\/plugins\/the-plus-addons-for-block-editor\/assets\/images\/tpgb-placeholder.jpg"},"tpgb_post_meta_info":{"get_date":"15\/05\/2026","category_list":{"category":[{"term_id":1,"name":"Blog","slug":"blog","term_group":0,"term_taxonomy_id":1,"taxonomy":"category","description":"Your blog category","parent":0,"count":13,"filter":"raw"}],"post_tag":false},"author_name":"adminUtama","author_url":"https:\/\/aickediri.com\/index.php\/author\/adminutama\/","author_email":"stepbyzyi@gmail.com","author_website":"https:\/\/aickediri.com","author_description":"","author_facebook":"","author_twitter":"","author_instagram":"","author_role":["administrator"],"author_firstname":"","author_lastname":"","user_login":"adminUtama","author_avatar":"<img alt='' src='https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d5d318364e84041cfbfb3013afcecdbd?s=200&#038;d=mm&#038;r=g' srcset='https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d5d318364e84041cfbfb3013afcecdbd?s=400&#038;d=mm&#038;r=g 2x' class='avatar avatar-200 photo' height='200' width='200' decoding='async'\/>","author_avatar_url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d5d318364e84041cfbfb3013afcecdbd?s=96&d=mm&r=g","comment_count":0,"post_likes":0,"post_views":0},"tpgb_post_category":{"category":"<a href=\"https:\/\/aickediri.com\/index.php\/category\/blog\/\" alt=\"Blog\" class=\"category-blog\">Blog<\/a> "},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/aickediri.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8955","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/aickediri.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/aickediri.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aickediri.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aickediri.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8955"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/aickediri.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8955\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8957,"href":"https:\/\/aickediri.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8955\/revisions\/8957"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aickediri.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/8956"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/aickediri.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8955"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/aickediri.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8955"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/aickediri.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8955"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}