{"id":8701,"date":"2025-01-12T20:51:12","date_gmt":"2025-01-12T12:51:12","guid":{"rendered":"https:\/\/aickediri.com\/?p=8701"},"modified":"2025-01-25T16:06:27","modified_gmt":"2025-01-25T08:06:27","slug":"menjadi-santri-yang-produktif-dan-berkahlak-di-era-society-5-0","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/aickediri.com\/index.php\/2025\/01\/12\/menjadi-santri-yang-produktif-dan-berkahlak-di-era-society-5-0\/","title":{"rendered":"Menjadi Santri yang Produktif dan Berakhlak di Era Society 5.0"},"content":{"rendered":"\n<p>Oleh: Ade Heru Prasetyo, S.Pd.<\/p>\n\n\n\n<p>Era <em>society <\/em>5.0 telah membawa perubahan besar dalam cara hidup dan belajar, termasuk di lingkungan pesantren. Tidak hanya dituntut menguasai ilmu agama, santri juga perlu mengembangkan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan zaman, termasuk memanfaatkan teknologi secara bijak. Di sinilah peran sekolah berbasis pesantren menjadi sangat strategis, yaitu dengan mengintegrasikan nilai-nilai Islami ke dalam proses pembelajaran yang adaptif dan inovatif.<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"alignright size-large is-resized\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1600\" height=\"900\" src=\"https:\/\/aickediri.com\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/WhatsApp-Image-2024-11-15-at-09.35.35-1-edited.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-8703\" style=\"width:517px;height:auto\" srcset=\"https:\/\/aickediri.com\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/WhatsApp-Image-2024-11-15-at-09.35.35-1-edited.jpeg 1600w, https:\/\/aickediri.com\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/WhatsApp-Image-2024-11-15-at-09.35.35-1-edited-300x169.jpeg 300w, https:\/\/aickediri.com\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/WhatsApp-Image-2024-11-15-at-09.35.35-1-edited-1024x576.jpeg 1024w, https:\/\/aickediri.com\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/WhatsApp-Image-2024-11-15-at-09.35.35-1-edited-768x432.jpeg 768w, https:\/\/aickediri.com\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/WhatsApp-Image-2024-11-15-at-09.35.35-1-edited-1536x864.jpeg 1536w\" sizes=\"(max-width: 1600px) 100vw, 1600px\" \/><\/figure><\/div>\n\n\n<p>Proses pembelajaran di sekolah berbasis pesantren tidak hanya berfokus pada transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter Islami yang kuat. Santri didorong untuk memahami bahwa produktivitas adalah bagian dari ibadah. Dalam praktiknya, pembelajaran berbasis proyek (<em>project-based learning<\/em>) menjadi salah satu metode yang relevan untuk melatih produktivitas santri di era <em>society<\/em> 5.0. Misalnya, santri dapat diberikan tugas untuk membuat konten digital Islami, seperti video, infografis, maupun artikel yang dapat dibagikan melalui platform media sosial sekolah. Proyek ini tidak hanya melatih keterampilan teknis seperti desain grafis atau penulisan, tetapi juga menguatkan nilai-nilai dakwah yang menjadi bagian dari misi pesantren.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Kegiatan literasi juga menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran di sekolah. Dengan mendorong santri untuk aktif menulis, baik dalam bentuk artikel, cerpen, maupun opini, mereka tidak hanya dilatih berpikir kritis tetapi juga belajar menyampaikan ide secara sistematis. Literasi digital, seperti pembuatan video konten maupun film pendek, bisa menjadi sarana untuk menyebarkan pandangan dan pesan moral yang relevan. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Alaq: 1-3: <em>\u201cBacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan, yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu yang Maha Pemurah.\u201d<\/em> Ayat ini menekankan pentingnya membaca dan menulis sebagai sarana untuk mengembangkan ilmu dan menyampaikan kebaikan.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain literasi, seni audiovisual dan teknologi juga bisa menjadi bagian dari proses pembelajaran. Dengan memanfaatkan kemampuan dalam bidang videografi, santri dapat menghasilkan film pendek atau dokumenter yang menggambarkan kehidupan Islami, inspirasi dari tokoh Muslim, atau kisah para nabi. Proses ini melibatkan kreativitas sekaligus keterampilan teknis, menjadikan pembelajaran lebih menarik dan relevan.&nbsp;<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"alignleft size-large is-resized\"><img decoding=\"async\" width=\"683\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/aickediri.com\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/DSCF9314-683x1024.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-8704\" style=\"width:338px;height:auto\" srcset=\"https:\/\/aickediri.com\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/DSCF9314-683x1024.jpg 683w, https:\/\/aickediri.com\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/DSCF9314-200x300.jpg 200w, https:\/\/aickediri.com\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/DSCF9314-768x1152.jpg 768w, https:\/\/aickediri.com\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/DSCF9314-1024x1536.jpg 1024w, https:\/\/aickediri.com\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/DSCF9314-1365x2048.jpg 1365w, https:\/\/aickediri.com\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/DSCF9314-scaled.jpg 1707w\" sizes=\"(max-width: 683px) 100vw, 683px\" \/><\/figure><\/div>\n\n\n<p>Tidak kalah penting, pembelajaran berbasis kolaborasi juga perlu ditekankan. Santri dapat bekerja sama dalam kelompok untuk menyelesaikan proyek yang melibatkan teknologi, seni, atau literasi. Selain memperkuat ukhuwah, metode ini melatih keterampilan bekerja dalam tim, yang sangat diperlukan di era 5.0. Dalam QS. Al-Ma&#8217;idah: 2, Allah memerintahkan: <em>\u201cDan saling tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa, dan jangan saling tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan&#8230;\u201d<\/em> Kolaborasi yang berbasis nilai-nilai Islami akan menghasilkan karya yang lebih bermakna dan bermanfaat.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan mengintegrasikan keterampilan berbasis teknologi, literasi, dan seni ke dalam pembelajaran, santri di era 5.0 tidak hanya menjadi individu yang produktif, tetapi juga pelopor yang menggunakan potensi mereka untuk menyebarkan nilai-nilai Islam. Sekolah berbasis pesantren memiliki peran besar dalam menyiapkan generasi santri yang mampu bersaing di dunia modern tanpa kehilangan identitas keislaman mereka. Santri produktif di era 5.0 bukan hanya mereka yang cerdas menggunakan teknologi, tetapi juga yang mampu menjadikan teknologi sebagai sarana dakwah dan kontribusi nyata bagi umat. Dengan pembelajaran yang terarah, nilai-nilai Islami tetap terjaga, dan santri menjadi garda depan perubahan yang membawa manfaat bagi agama, bangsa, dan dunia.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Ade Heru Prasetyo, S.Pd. Era society 5.0 telah membawa perubahan besar dalam cara hidup dan belajar, termasuk di lingkungan pesantren. Tidak hanya dituntut menguasai ilmu agama, santri juga perlu mengembangkan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan zaman, termasuk memanfaatkan teknologi secara bijak. Di sinilah peran sekolah berbasis pesantren menjadi sangat strategis, yaitu dengan mengintegrasikan nilai-nilai Islami ke dalam proses pembelajaran yang adaptif dan inovatif. Proses pembelajaran di sekolah berbasis pesantren tidak hanya berfokus pada transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter Islami yang kuat. Santri didorong untuk memahami bahwa produktivitas adalah bagian dari ibadah. Dalam praktiknya, pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) menjadi salah satu metode yang relevan untuk melatih produktivitas santri di era society 5.0. Misalnya, santri dapat diberikan tugas untuk membuat konten digital Islami, seperti video, infografis, maupun artikel yang dapat dibagikan melalui platform media sosial sekolah. Proyek ini tidak hanya melatih keterampilan teknis seperti desain grafis atau penulisan, tetapi juga menguatkan nilai-nilai dakwah yang menjadi bagian dari misi pesantren.&nbsp; Kegiatan literasi juga menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran di sekolah. Dengan mendorong santri untuk aktif menulis, baik dalam bentuk artikel, cerpen, maupun opini, mereka tidak hanya dilatih berpikir kritis tetapi juga belajar menyampaikan ide secara sistematis. Literasi digital, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":8703,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"tpgb_global_settings":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-8701","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-blog"],"tpgb_featured_images":{"full":["https:\/\/aickediri.com\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/WhatsApp-Image-2024-11-15-at-09.35.35-1-edited.jpeg",1600,900,false],"tp-image-grid":["https:\/\/aickediri.com\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/WhatsApp-Image-2024-11-15-at-09.35.35-1-edited-700x700.jpeg",700,700,true],"thumbnail":["https:\/\/aickediri.com\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/WhatsApp-Image-2024-11-15-at-09.35.35-1-edited-150x150.jpeg",150,150,true],"medium":["https:\/\/aickediri.com\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/WhatsApp-Image-2024-11-15-at-09.35.35-1-edited-300x169.jpeg",300,169,true],"medium_large":["https:\/\/aickediri.com\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/WhatsApp-Image-2024-11-15-at-09.35.35-1-edited-768x432.jpeg",768,432,true],"large":["https:\/\/aickediri.com\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/WhatsApp-Image-2024-11-15-at-09.35.35-1-edited-1024x576.jpeg",840,473,true],"default":"https:\/\/aickediri.com\/wp-content\/plugins\/the-plus-addons-for-block-editor\/assets\/images\/tpgb-placeholder.jpg"},"tpgb_post_meta_info":{"get_date":"12\/01\/2025","category_list":{"category":[{"term_id":1,"name":"Blog","slug":"blog","term_group":0,"term_taxonomy_id":1,"taxonomy":"category","description":"Your blog category","parent":0,"count":12,"filter":"raw"}],"post_tag":false},"author_name":"adminUtama","author_url":"https:\/\/aickediri.com\/index.php\/author\/adminutama\/","author_email":"stepbyzyi@gmail.com","author_website":"https:\/\/aickediri.com","author_description":"","author_facebook":"","author_twitter":"","author_instagram":"","author_role":["administrator"],"author_firstname":"","author_lastname":"","user_login":"adminUtama","author_avatar":"<img alt='' src='https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d5d318364e84041cfbfb3013afcecdbd?s=200&#038;d=mm&#038;r=g' srcset='https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d5d318364e84041cfbfb3013afcecdbd?s=400&#038;d=mm&#038;r=g 2x' class='avatar avatar-200 photo' height='200' width='200' decoding='async'\/>","author_avatar_url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d5d318364e84041cfbfb3013afcecdbd?s=96&d=mm&r=g","comment_count":28,"post_likes":0,"post_views":0},"tpgb_post_category":{"category":"<a href=\"https:\/\/aickediri.com\/index.php\/category\/blog\/\" alt=\"Blog\" class=\"category-blog\">Blog<\/a> "},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/aickediri.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8701","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/aickediri.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/aickediri.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aickediri.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aickediri.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8701"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/aickediri.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8701\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8707,"href":"https:\/\/aickediri.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8701\/revisions\/8707"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aickediri.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/8703"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/aickediri.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8701"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/aickediri.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8701"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/aickediri.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8701"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}