Ramadhan tiba, dan kita kembali puasa. Islam berukun lima, satu diantaranya puasa di bulan ini. Maka puasa penting, karena pasti di dalamnya ada hikmah yang tak ternilai. Perintah puasa dimulai dengan “panggilan terhadap orang yang beriman”, artinya puasa berat, hanya orang yang berkualitas yang mampu menjalankannya.
Ada pendapat yang tidak tepat, anugerah terbesar Tuhan kepada manusia adalah “kekuasaan, harta benda, kemasyhuran, nama besar”. Maka banyak orang bekerja keras denga aneka cara untuk mendapatkanya. Tapi justru dengan itu manusia terjatuh dalam kehancuran.
Kekuasaan memabukkan, harta benda membuat lalai, kemasyhuran membuat manusia lupa terhadap dirinya. Bahkan kemudian, memperlakukan semua itu sebagai tuhan baru, yang ia sembah-sembah dalam tiap nafas usahanya.
Anugerah terbesar Tuhan kepada hamba adalah “perintah”. Kita diwajibkan keluar rumah, jangan semua ikut bertempur , belajarlah tentang “perintah”, untuk mengetahui, memahami, menjalankan, konsisten dalam pengamalan juga mengajarkan dan mengingatkan.

Dunia dengan segala isinya berjalan dan kita bisa menikmati karena tegaknya perintah. Tiap benda, entah berapa jumlahnya, semua teratur, sistematis, terukur, taat terhadap perintah. Tiap tanaman, apapun namanya, jenis bijinya, proses tumbuhnya, waktu bunga dan buahnya, jenis kayu, macam daun, semuanya berbeda dan teratur. Dan anehnya, aneka beda itu tumbuh dalam tanah yang sama.
Begitu juga manusia, kita tak tahu berapa organ yang ada dalam instrumen lahir dan yang tersembunyi dalam tubuhnya, dan rahasia dalam kalbunya, tapi semuanya berperan tanpa tumpang tindih, teratur, sehingga manusia menjadi satu makhluk istimewa. Tak sekuat gajah, tak mampu terbang layaknya burung, tak mampu menyelam seperti ikan, tapi diberikan “akal dan hati” yang menakjubkan sehingga malaikat sekalipun harus hormat, ta’dzim padanya.
Puasa adalah “perintah”, maka mereka yang mengerti akan gembira datangnya perintah itu, dan akan menjalankan dengan sepenuh jiwa. Perintah memiliki “maqashid”(tujuan), dalam perintah berhukum sunnah apalagi wajib. Dalam semua tujuan itu , pengambil manfaat adalah pelakunya (manusia). Sebagian manfaat bisa dikenali dengan akal, tapi jauh lebih banyak yang tidak dipahami. Iman akan mampu merasakannya.
Puasa agak berbeda, kecuali ada berbagai “iming-iming” seperti puasa penghapus dosa, puasa perisai dari api neraka, puasa menyehatkan, orang yang punya diberikan dua kegembiraan, saat berbuka dan saat nanti bertemu Tuhan, bagi yang puasa dibuatkan pintu khusus di surga, “Royyan” namanya, yang melewatinya hanya orang-orang yang puasa.
Dalam hadits Qudsi, Allah SWT berfirman ;” semua manfaat ibadah dan perintah untuk pelakunya. Puasa untuk Ku dan hanya Aku yang akan memberi imbalan”. Maka banyak para ulama, bersungguh sungguh memperhatikan perintah yang satu ini. Dan mereka bukan hanya puasa di bulan ramadhan, tapi juga puasa di hari hari-hari lain, di bulan-bulan lain, selama bukan pada waktu yang dilarang.
Para ulama juga mengkaji serius, isyarat-isyarat tersembunyi dalam “perintah puasa”, tujuannya agar bisa berpuasa dengan sempurna, sesuai perintah. Maka kita temukan pendapat, puasa terbagi dua yaitu “puasa syariat dan puasa Hakikat”.
Puasa syariat seperti biasa kita lakukan, ada waktu tertentu, syarat, rukun serta hal-hal yang membatalkan. Dalam puasa syariat ada beberapa tingkat, puasa orang awam, puasa orang khusus dan puasanya yang sangat khusus. Dan semua perbedaan itu ditentukan seberapa mampu ia berpuasa dengan seluruh instrumen lahir batin, jiwa raganya, badan, akal dan hatinya.
Puasa hakikat, adalah puasa tanpa waktu, tiap saat, bahkan tiap gerak dan diamnya, tiap hembusan dan tarikan nafasnya.. Harinya selalu terkendali, tak sekejap pun berpaling, tak ada ruang ragu, yakin sepenuh hati, Allah memenuhi seluruh ruang hatinya.
Dunia dengan segala kemewahannya, tak mengusik sanubarinya. Keindahanya adalah “mengingat Nya”, kebahagian adalah saat bersama Nya . Cita-cita besarnya tak lagi berharap surganya, ketakutan Nya tak lagi siksa neraka, ia ingin segera menjumpai Dzat yang dicintai.
Memang ia bisa menjumpai asma Nya yang indah, terlukis dalam segala ciptaan, ia juga menyaksikan kesempurnaan af’alnya dalam tiap kejadian, justru itu ia makin rindu untuk menyaksikan kesempurnaan Dzat Nya.
Orang dengan puasa hakekat hatinya terlukis syukur dan sabar silih berganti. Keduanya melahirkan aneka sikap hati yang membuat Allah SWT Ridlo ; tawakal, zuhud, qanaah, tawadhu’, dan selalu menjaga hati, tidak lalai. Istighfar selalu tersungging, bukan hanya karena alpa dan dosa tapi karena “lupa”, lupa pada Nya.
Aneka ibadah juga muamalah adalah titik-titik kebahagiaan, yg memastikan menjadi langkah-langkah kecil, yang berujung pada impian menjumpai Nya. Kebahagiaannya adalah menerima perintah dan menjalankanya, kesedihannya jika ia kurang sempurna kondisi hatinya dalam menunaikan perintah. Orang dengan kualitas seperti itu tersembunyi dan disembunyikan, kita hanya tahu ia “sangat biasa”.
Puasa kali ini harus menjadi “momentum” , untuk menjadikan puasa menjadi amaliah di ramadhan saja tapi dalam tiap waktu yang kita miliki. Puasa yang benar akan membuat hati benderang, tersambung dengan asma Nya dan memahami af’al Nya. Orang seperti ini yang digambarkan “tidak bersedih dan tidak takut”, siapa saja yang memandang tergugah hati dan ruhnya, insyaf akan kelalaianya, tersentak menjadi ingat Tuhan Nya.
Tinggalkan Komentar